| Tuesday, April 8, 2008 |
| khalil I |
hari ini aku akan bercerita kepadamu tentang kisah sepasang merpati yang malang. sebelum sejarah mencatat kisah ini aku yang lebih dulu akan menceritakan kepadamu, pada suatu hari, disebuah pasar yang ramai akan pengunjung, disaat sebagian orang lelah akan pekerjaannya masing-masing, datanglah pertemuan siang itu seorang pria yang tampan, baik, dan berjiwa besar yang bernama khalil, seorang pertualang sejati yang lebih menyendiri dalam keterasingan dari pada hidup menyakitkan. ketika ia duduk disebuah halte yang ramai khalil duduk dengan seorang wanita yang cantik, anggun, baik hati dan menawan, konon namanya maryam yang lahir dari lingkungan yang taat. Mereka duduk dihalte itu di antara seorang bapak separuh baya yang berasal dari qatar, mereka duduk bersama sambil menunggu kereta yang merekapun belum mengetahui kapan kereta itu akan datang. mereka saling menatap satu sama lain namun tak ada kata yang tercipta hingga suatu saat bapak itu yang membuka obrolan diantara mereka dengan menanyakan keduanya, selepas bapak itu pergi, terciptalah sebuah obrolan yang sangat membekas diantara keduanya, mereka menceritakan tentang masa lalu, masa depan dan masa yang mereka lalui saat ini, khalil menceritakan tentang dirinya seorang pertualang sejati yang tidak mengetahui keberadaan orang tuanya dan dari mana asal aslinya, maryam juga menceritakan tentang masa kecilnya yang dibesarkan dalam keluarga yang taat, teratur dan indah. Obrolan itu sangat hidup seperti hembusan angin dipagi hari diawal musim semi, hingga kereta itu hadir mereka masih asyik bercerita sampai waktu memisahkannya. mereka duduk didalam bong yang sama, namun mereka berada seakan-akan didunia yang berbeda, tak ada kata yang tercipta karna keramaian yang membuat mereka lebih baik memilih diam meskipun diantara mereka belum saling kenal,sepanjang perjalanan mereka hanya bisa saling andang dan memalingkan muka sampai akhirnya kereta itu berhenti dan memisahkan mereka bertepatan dengan bergantinya matahari sore yang memisahkan diri dengan bumi. khalil hanya bisa mengingat kisah itu dengan dalam, karena cerita yang pernah terukir pada hari itu menyisakan bekas yang amat indah, begitupun maryam, dia mulai tersiksa dengan keadaan seperti ini, disetiap pagi menjemput ia mulai menunggu dibalik jendela rumahnya, menunggu kejadian yang pernah terjadi waktu itu kembali lagi, menunggu kehadiran pemuda yang ia pun tak tahu namanya. perjalanan waktu terus berjalan, khalil mulai sibuk dengan perkerjaannya sebagai pengembara, ia melakukan pekerjaan apa saja untuk bertahan hidup didaerah yang tak pernah bertuan, hari berganti hari, bulan berganti bulan namun perasaan yang ada diantara mereka masih seperti mereka pertama kali bertemu, masih saling membutuhkan meskipun mereka hanya memiih diam meskipun terkadang mereka bertemu didalam keramaian, sampai suatu ketika ketika kelopak-kelopak bunga mulai mekar menghiasi taman kota cairo mereka bertemu dengan sesuatu yang tak diduga, maryam sedang berjalan menuju pulang dirumah kediamannya yang berada dipermukaan padang pasir, ia berjalan denan lelah sambil dikedua tangannya membawa tas-tas belanjaan yang berisikan buah-buahan yang segar tanpa berfikir panjang lagi khalil menghampirina dan menawarkan jasa untuk membantunya, mereka berjalan menyusuri perkampungan disore itu sambil bercerita tentang kejamnya kehidupan yang mereka alami, tentang kehidupan yang terus menantang dan terntang mimpi-mimpi malam yang mereka takuti, mereka berjalan sambil tertawa lepas seperti tata seorang kekasih yang bertemu dengan kekasihnya setelah sekian lama berpisah, mereka berpisah seperti seorang dara yang haus akan darah, mereka berjalan tanpa memikirkan orang yang ada disekitarnya, sampai mereka tidak sadar kalau kaki-kaki mereka sudah hampir sampai pada tujuan yang mereka tuju. "setelah kita bercerita panjang tentang kehidupan, tentang aku dan tentangmu, kita sudah saling mengenal antara jiwaku dan jiwamu namun aku belum mengenal nama yang mempunyai jiwa-jiwa mulia sepertimu, bolehkah aku mengetahuinya sobat?" tanya khalil sambil menghentikan langkahnya dan menatap tajam perempuan disampingnya dengan pandangan yang tak berkedip."namaku maryam, aku dibesarkan dari keluarga yang taat beribadah, ayahku adalah seorang guru agama disekolah menengah sedangkan ibuku adalah wanita muslimah yang dibesarkan didalam lingkunga esantren yang sangat menjunjung tinggi adab dan sopan santun, disini aku tinggal bersama pamanku, mungkin untuk sementara karena selama aku berada bersaa mereka aku sedakan berada ditempat asing yang lebih asing dari kota antaberanta". jawab maryam sambil meminta tas dan beranjak pergi meninggalkan khalil dalam kebingungan."apakah kau tak butuh namaku?"tanya khalil lagi."jauh sebelum kau ingin mengenaliku, aku sudah mengenalimu serta kepribadianmu dan itulah yang memikat aku untuk slalu bercerita kepadamu karena bagiku kau adalah sahabat yang tak akan membuat aku bosan, ya..seperti rembulan yang slalu menemani malam". maryam berlari sambil menebarkan senyum kepada penjuru jagat raya, khalil hanya membalas didalam hati sambil meninggalkan tempat itu sebelum metehari menghilang karena kalau matahari menghilang dia tidak bisa menyaksikan pemandangan yang paling indah dari atas gurun. hari terus berganti seperti malam yang tak pernah lelah bergantian menjaga bumi dengan siang, seperti musim semi yang siap memekarkan bunga dari kedinginan, tapi tidak dengan khalil, perasaannya masih seperti pertama kali ia melihat maryam di halte siang itu, wajah maryam semakin hari semakin membekas dipusara hatinya, pahatan cintanyapun semakin membesar. Labels: biasa-biasa saja |
posted by caknyo @ 2:32 AM  |
|
|
|
|
| surat cinta |
Hari ini aku terlalu capek untuk merangkai kata-kata untukmu, mungkin karena senyumanmu kemaren yang membuat aku menjadi seperti ini, aku tak tahu,. Yang jelas beri aku waktu untuk beristirahat sejenak.
Pergilah ketaman yang kau sukai kemaren, biarkan aku sejenak menyendiri disini, aku yakin hari ini akan menjadi lebih indah dari pada lebah yang menghasilkan madu dimusim semi disetiap tahun, tersenyumlah karna aku takkan kemana, aku disini hanya ingin menghabiskan secangkir kopi buatanmu minggu kemaren sambil menyelesaikan bait-bait cinta yang sudah lama aku pahat didinding hati.
Ketika kau tiba ditaman itu, berdoalah. Atas nama Tuhan yang maha Esa!. Bayangkan bahwa aku sedang menghampirimu sambil membacakan puisi-puisi cinta yang aku buat dimusim semi tahun lalu.
Tak banyak yang dapat aku katakan saat ini, sayang. Aku ingin beristirahat karna perjalanan kita masih terlalu panjang untuk ditempuh dengan mata telanjang, siapkan bekal secukupnya karna besok sebelum fajar kita sudah harus melangkah kedepan untuk melanjutkan perjalanan kita sampai kita benar-benar letih sayang. Labels: biasa-biasa saja |
posted by caknyo @ 2:26 AM  |
|
|
|
|
| capek |
mencari kata yang pantas biar kau tahu mencari alasan yang pas biar kau mau apa lagi yang bisa aku berikan
jangan bikin aku susah kasih tahu sajalah gak usah malu-malu hari ini aku capek
dari mengabdi pada bumi kalau kau masih belum mau lebih baik aku tidur saja dulu!!! bawabah III
ali siddik baba Labels: biasa-biasa saja |
posted by caknyo @ 2:22 AM  |
|
|
|
|
| |
| About Me |
|

Name: caknyo
Home: nasr city, cairo
About Me:
See my complete profile
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
|
| Shoutbox |
| Ungkapan Welcome |
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. |
| jaringan |
|
|
| Powered by |
 |
|